Breaking News

Resep Membuat Kue Katirisala, Kue Khas Sulsel Yang Sangat Nikmat

Resep Membuat Kue Katirisala, Kue Khas Sulsel Yang Sangat Nikmat – Katirisala adalah salah satu kue tradisional Bugis-Makassar terpopuler. Tidak hanya sebagai camilan di pagi hari di hari biasa, tapi juga menjadi sajian terpopuler saat berpuasa.

Resep Membuat Kue Katirisala, Kue Khas Sulsel Yang Sangat Nikmat

 

Lantas, bagaimana cara mencampurkan beras ketan dan gula merah?

1. Bahan dasar pembuatan kue katirisala

Bahan :

  • Setengah Kg beras ketan (hitam atau putih, sesuai selera)
  • Santan secukupnya
  • daun pandang
  • 7 butir telur
  • 400 gram gula merah yang sudah dicincang halus
  • 125 mm santan kental
  • Garam secukupnya sesuai selera

2. Buat lapisan beras ketan

Langkah pertama, rendam beras ketan selama satu hingga dua jam. Setelah ditiriskan, uleni ketan hingga lumat. Masukkan ke dalam panci panas dengan daun pandan cincang dan kukus hingga matang.

Setelah matang, cetak ketan di wadah berlapis penghapus. Oleskan hingga kencang dan rata, lalu kukus selama sekitar lima hingga sepuluh menit.

3. Buat lapisan gula merah

Sambil menunggu lapisan ketan matang, Buat lapisan gula merah. Kocok semua telur dengan gula merah cincang sampai semua telur larut dan mengembang. Tambahkan total 100ml santan, aduk rata.

Tuang adonan gula merah pada permukaan ketan, lalu kukus kembali. Setelah matang, segera dinginkan dan potong katirisala hanya setelah suhu turun. Ini tidak akan merusak lapisan kemanisan.

4. Sejarah Kue katirisala

Bagi lidah biasa, campuran beras ketan dan gula merah jelas bakal mengernyitkan dahi. Hal ini juga sejalan dengan arti kata katirisala yang dalam bahasa Bugis berarti “salah tumpah.”

Menurut sejarah turun-temurun, kue ini lahir secara tidak sengaja. Alkisah, beberapa orang tua sedang menyiapkan sokko’ — olahan beras ketan khas Sulawesi Selatan lainnya — guna memindahkan rumah suku Bugis (Mappalette Bola).

Selama proses ini, larutan gula merah tidak sengaja tertumpah pada salah satu lapisan sokko yang telah disiapkan. Tidak ada yang menyadarinya hingga lapisan gula yang pekat dilapisi beras ketan.

Salah satu orang tua tidak ingin membuangnya usai mendapati sokko yang dilemparkan ke dalam gula aren. Dia dengan berani mencicipinya. Tanpa diduga, ia mengatakan bahwa makanan tersebut masih layak untuk disantap, bahkan lebih enak. Sejak saat itu, masyarakat mulai membuat katirisala rutin dan mengingatkan masyarakat bahwa insiden kecil bisa menjadi berkah.